Minggu, 24 Juli 2011

Mati seribu tumbuh Satu


Sebagian besar pelajar sma atau bahkan sampai mahasiswa ketika ditanya pernakah kamu mengikuti kegiatan pramuka?dan rata rata mereka pun menjawab,tentu,aku pernah mengikuti pramuka,tapi itu dulu waktu sekolah dasar dan sekarang sudah tidak lagi,banyak kegiatan yang lebih menarik,katanya ungkap seorang pelajar salah satu sma  di jombang.lain halnya dengan pendapat Amelia fitri,mahasiswi salah satu perguruan tinggi di jombang itu menuturkan bahwa ikut ikutan pramuka?udah gak jamannya kaleee,sambil tersenyum sinis.
            Fenomena munculnya asumsi miring tentang pramuka semacam itu sebenarnya sudah saya dengar dalam obrolan ringan saat sma, bahkan juga masih terdengar di kalangan kampus tempat saya belajar.ketika saya mengikuti unit kegiatan pramuka di kampus kami pun pernah mendiskusikan tentang menurunnya minat pemuda untuk mengikuti kegiatan pramuka. Harus diakui, pramuka telah lama kehilangan daya tariknya.
berdiri pada 14 Agustus 1961, gerakan pramuka secara nasional mengalami puncak kejayaan di era Soeharto. Anggotanya meningkat pesat dari 500 ribu pada 1961 menjadi 14 juta jiwa pada 1985. Jumlah anggota kian membesar setelah pramuka ditetapkan sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Bahkan setelan cokelat pramuka pun ditetapkan sebagai salah satu seragam sekolah.namun dalam perkembangannya di era kuatnya arus modernisasi gerakan pramuka mengalami degradasi. Maklum, sejak Presiden Soeharto lengser, Mei 1998, sokongan dana pramuka dari APBN ikut berhenti. Pada tingkat daerah, banyak gubernur, bupati,camat sampai kepala sekolah tidak terlalu gencar membantu kwartir dan kegiatan pramuka.
Sejalan dengan perkembangan zaman, banyak gugus depan dengan peserta didik dari pramuka siaga (7-10) sampai pandega (21-25) yang berbasis gugus depan semakin menurun.Anak-anak dan remaja tersedot mengikuti kegiatan lain yang lebih santai dan menarik.pilihannya pun beragam,mulai drum band,banjari,vokal,English club,komputer dan sebagainya.tentu kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang positif,namun menjadi generasi penerus bangsa yang handal,tanggap,tangguh,tanggon dan trengginas tentu gerakan pramuka wadah yang lebih tepat.memang tidak semua harus pramuka tapi semua bermula dari pramuka.
Sayang, lantaran ada beberapa gudep pramuka yang dipaksakan, kualitas menjadi kurang diperhatikan. Kegiatan pramuka jadi monoton dan menjemukan. Napas pramuka yang mengutamakan unsur sukarela dan se mangat kekeluargaan makin kendur.Di sekolah pun kegiatan ini Cuma berkembang di tingkat sekolah dasar. Siswa SMP dan SMU, terutama di kota-kota besar, tak lagi melihat pramuka sebagai kegiatan yang menarik. Pramuka secara berangsur-angsur kehilangan pamor.
Sebagai contoh,dari 21 gugus depan penegak di wilayah kwartir ranting diwek hanya 5 gudep yang masih aktif berkegiatan.padahal  kalau menggunakan data statistik jumlah pramuka penegak tidak lebih dari seratus orang tentu tidak sebanding dengan jumlah pelajar sma yang mencapai sepuluh ribu lebih.Persoalan serupa juga dialami di tingkatan penggalang maupun siaga. Kini di salah satu gudep saja hanya tinggal belasan saja. Padahal, beberapa anggota pramuka berprestasi sampai ke tingkat nasional berasal dari gudep.memang harus kita bahwa minat pemuda untuk mengikuti pramuka semakin menurun bak sebuah peribahasa,”mati seribu tumbuh satu “
memang masih ada sekolompok pramuka penegak berbasis satuan karya yang beruntung masih bisa bertahan. Basis satuan karya bukan gugus depan membuat pramuka menjadi milik bersama sebuah komunitas. Orang tua, pendidik, anak muda, juga pamong setempat ikut merasa memiliki gerakan ini. Ikatan sosial pun terjalin kuat. Amanat memanggil pulang gerakan pramuka untuk kembali menjadi gerakan komunitas, sukarela, dan kekeluargaan ini yang sedang didengungkan.
 Berkurangnya minat para siswa terhadap kegiatan pramuka menjadi pusat perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saat membuka Jambore Nasional di Jatinangor, Sumedang. selaku Ketua Majelis Pembimbing Nasional, Presiden meminta gerakan pramuka memperbarui metode kegiatan dan pelatihan. "Agar gerakan ini diminati lagi," kata Presiden Yudhoyono. Sebagai catatan, Yudhoyono semasa remaja pernah menjadi anggota pramuka. "Akan saya canangkan revitalisasi gerakan pramuka pada ulang tahun gerakan ini, 14 Agustus nanti," katanya.Agar revitalisasi pramuka berjalan mulus, Presiden Yudhoyono berjanji memperjuangkan payung hukum bagi gerakan ini dalam bentuk undang-undang. Maklum, selama ini, payung hukum gerakan itu cuma berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 yang dikeluarkan Presiden RI Soekarno.
Ide revitalisasi pramuka juga didengungkan mantan Menko Kesra Aburizal Bakrie ketika menutup acara perkemahan Wirakarya Nasional di Gorontalo,Saat membuka Rakernas Pramuka, Juni 2006, mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga Adhyaksa Dault pun menyatakan dukungan penuh upaya menggolkan UU Kepramukaan.
Bak gayung bersambut,ide revitalisasi gerakan pramuka juga terdengar sampai ke kota-kota bahkan kecamatan,tidak tanggung-tanggung,dalam peringatan hari ulang tahun pramuka di gedung bung tomo pemkab jombang, bupati selaku kamabicab memerintahkan kepada seluruh jajaran kamabiran sekabupaten dan pimpinan satuan karya untuk meningkatkan kuantitas dan kwalitas gerakan pramuka.
Ide revitalisasi itu pada akhirnya menyisakan pertanyaan,seberapa jauh efektifitas gagasan itu untuk dilaksanakan?Menariknya,teman-teman yang berdiri di garis terdepan dewan kerja ranting sejauh ini tidak melihat perubahan yang signifikan terhadap gerakan pramuka.bahkan dkr yang merupakan ujung tombak kwartir ranting pun masih banyak yang berjalan tertatih-tatih bahkan jalan di tempat istilahnya mengingat rendahnya partisipasi,dukungan moril dan finansial serta bimbingan dan pengawasan dari dari kwarran.kami menyadari bahwa revitalisasi yang lama di dengung-dengungkan hanya sebatas intruksi yang pada akhirnya  menguap begitu saja tanpa ada tindak lanjut yang nyata.kalau sudah seperti ini permulaannya,tentu bukan perkara mudah untuk mengembalikan kejayaan gerakan pramuka bak membalik telapak tangan.
Pernyataan diatas sudah sepantasnya menjadi bahan renungan,untuk melahirkan kecerdasan yang membaut rasa kebersamaan dan sinergi perubahan pada gerakan pramuka secara nyata.Napoleon Bonaparte mengatakan “tidak ada yang mudah…tetapi tidak ada yang tidak mungkin”pepatah kuno yang pernah menggelora saat perang dunia pertama itu memberikan spirit kepada kita semua untuk terus mendharma bhaktikan jiwa raga untuk mengembalikan kejayaan gerakan pramuka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar